Tuesday, March 16, 2010

Kenapa Sih si Alay?

long time no post here....

kinda miss this blog. i've been so busy mith my movie blog, crafting activities and my unfinished college fyp.

ok, gw pengen cerita ttg alay. Beberapa waktu lalu dunia maya sempat digemparkan oleh diskusi-diskusi tentang orang-orang alay. Kebanyakan dari kita merasa terganggu dengan cara mereka nulis status,sms,tweet dengan huruf campur aduk besar-kecil-angka-simbol dalam satu kata. Gimana gak pusing coba? Belum lagi sikap mereka yang SKSD sama orang lain, gak kenal tapi nge-request kita as their siblings on Facebook. Jangan salahkan kita yang merasa keganggu dan akhirnya ngejek mereka di twitter ato forum-forum diskusi yang menyebutkan ciri-ciri alay yang sukses bikin kita sebel sekaligus tertawa.

tapi itu dulu...

Sekarang walaupun alay masih dipandang sebelah mata, tapi orang-orang udah pasrah dan capek mengeluarkan emosi atas tingkah laku aneh mereka. Kalo gue sendiri memilih untuk menganggap mereka gak ada, kalo ganggu remove saja mereka dari social networking kita (kalao beneran mengganggu).


Beberapa waktu lalu gw baca artikel berjudul 'Fenomena Alay' di salah satu majalah remaja lokal. Dan ternyata pengertian Alay sungguh sangat meluas dari yang tadinya hanya sekitar attitude yang annoying sampai ke masalah penampilan luar dan pilihan gaya hidup. Gue baru sadar, sekejam itukah kita anak-anak golongan anti alay? sampai mengkategorikan soal fisik?!?!

Apa emang sekarang alay bisa dideteksi dari baju yang mereka pakai, aksesoris mereka, musik yang mereka dengarkan. Gue akhirnya justru merasa bersalah dengan hujatan-hujatan yang gue keluarkan melalui tweet gue. Siapa gue bisa nge-judge mereka seperti itu?

Manurut gue alay itu pilihan gaya hidup. Sama seperti mereka yang memilih untuk jadi anak gaul, anak punk atau anak kutu buku. Hanya karena ini adalah hal baru, publik jadi kaget dan gak siap dengan fenomena baru yang muncul di sekitar kita. Dan mungkin juga kita terlalu terpaku oleh standar yang selama ini diperlihatkan melalui media tv, koran, majalah dan internet mengenai apa yang keren dan apa yang enggak. Padahal pengertian keren-norak itu sebenarnya sangat subjektif, sama halnya dengan alay. Sampai saat ini belum ada kategori pasti untuk alay ini, bahkan artikel yang ditulis di majalah yang gue baca juga sangat subjektif dan cenderung dangkal.


well, blogmates... Alay juga manusia sama seperti kita. Mereka berhak diperlakukan sama seperti kita. Tapi buat elo yang memilih jadi alay, jangan ganggu kita yang gak suka dengan pilihan elo. Saling menghormati pilihan masing-masing.  keep on making friends, ok?



xoxo,

@fitapermatasari

2 comments:

Ujie Indria Suwandi on March 16, 2010 at 4:29 AM said...

Eh gw jg kaget waktu baca artikel fhenomena alay di majalah itu, gw malah ngerasa org2 yg ngehujat alay segitunya malah termasuk dalam kategori alay.. lebih kagetnya lg deteksi alay yg bs diliat dr penampilan, selera musik, sampe gaya hidup yg sampe sebut merk segala..gw rasa kurang bijak untuk sebuah artikel di sebuah majalah remaja terkenal..mmh entahlah..

amazing fietha on March 16, 2010 at 8:06 AM said...

gw sama kagetnya kayak lo jie.... gw sama sodara gw bahkan me nge-email si redaksinya itu.

Gw ngerasa gak etis aja sebut nama, nampilin foto bahkan page facebook pihak tertentu.
kecewa gw beli edisi maret, padahal gw favorit bgt sm majalah itu.

Post a Comment

 

goes with...Ice Cream and Tiramisu Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template